Cara membuat anggaran bulanan yang realistis: hitung penghasilan bersih, bagi ke empat pos — kebutuhan 50%, keinginan 30%, tabungan 10%, dan investasi 10% — lalu tetapkan batas rupiah untuk setiap pos dan cek realisasinya seminggu sekali. Kuncinya bukan angka yang sempurna, tapi jumlah pos yang sedikit supaya kamu betah mengisinya sampai akhir bulan.

Kenapa Anggaran Bulanan Sering Gagal di Minggu Kedua?

Kebanyakan anggaran gagal bukan karena angkanya salah, tapi karena terlalu detail. Orang membuat 15–20 pos pengeluaran — makan, kopi, bensin, parkir, pulsa, laundry, dan seterusnya — lalu berhenti mengisi di hari ke-10 karena capek memilah setiap struk ke pos yang tepat.

Masalah kedua: anggaran dibuat sekali di awal bulan, lalu tidak pernah dilihat lagi sampai gaji berikutnya masuk. Padahal anggaran hanya berguna kalau kamu tahu posisi-nya di tengah jalan, bukan setelah uangnya habis.

Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK dan BPS tahun 2025, indeks literasi keuangan Indonesia berada di 66,46%. Artinya mayoritas orang sudah paham konsep menganggarkan — yang belum jalan adalah kebiasaan hariannya.

Prinsipnya: anggaran yang sederhana dan kamu jalankan selalu mengalahkan anggaran yang rinci tapi berhenti di minggu kedua.

Berapa Persen Gaji untuk Kebutuhan, Keinginan, dan Tabungan?

Patokan paling populer adalah metode 50/30/20, yang dipopulerkan Elizabeth Warren lewat buku All Your Worth: 50% penghasilan bersih untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan serta pelunasan utang.

ATUR memakai turunannya, 50/30/10/10, yang memisahkan tabungan dan investasi menjadi dua pos berbeda. Alasannya sederhana: kalau digabung jadi satu pos 20%, yang biasanya terisi cuma tabungan, dan investasi terus tertunda.

Diagram donat alokasi 50/30/10/10: kebutuhan 50 persen, keinginan 30 persen, tabungan 10 persen, dan investasi 10 persen dari penghasilan bersih.
Empat pos anggaran ATUR. Tabungan dan investasi sengaja dipisah supaya investasi tidak terus tertunda.
Pos50/30/2050/30/10/10 (ATUR)Isinya apa saja
Kebutuhan50%50%Sewa/cicilan rumah, makan pokok, transport kerja, listrik, air, internet, kesehatan, pendidikan
Keinginan30%30%Jajan, kopi, nongkrong, langganan streaming, hobi, fashion, hadiah
Tabungan20% (gabung)10%Dana darurat, tabungan tujuan jangka pendek
Investasi10%Reksadana, saham, emas, deposito, dana pensiun

Angka ini patokan awal, bukan hukum. Kalau kamu masih punya utang berbunga tinggi, pos investasi boleh dialihkan dulu ke pelunasan utang — bunga kartu kredit hampir selalu lebih besar dari imbal hasil investasi mana pun.

Cara Membuat Anggaran Bulanan dalam 5 Langkah

1 Hitung penghasilan bersih

Pakai angka yang benar-benar masuk ke rekening setelah potongan pajak, BPJS, dan iuran kantor. Kalau penghasilanmu tidak tetap, pakai rata-rata 3 bulan terakhir — bukan bulan terbaikmu.

2 Kurangi dulu tabungan dan investasi

Sisihkan 10% + 10% di awal bulan, bukan dari sisa di akhir bulan. Kalau menunggu sisa, biasanya tidak pernah ada sisa. Ini yang sering disebut pay yourself first.

3 Kunci pos kebutuhan

Jumlahkan semua pengeluaran yang tidak bisa ditawar bulan ini: sewa, cicilan, tagihan rutin, makan pokok, transport kerja. Kalau totalnya melebihi 50%, ada dua pilihan: turunkan biaya tetapnya, atau akui bahwa pos keinginanmu harus lebih kecil dari 30%.

4 Tetapkan batas rupiah, bukan persen

Persen berguna untuk merancang, rupiah berguna untuk dijalankan. Ubah “30% untuk keinginan” jadi “Rp 1.500.000 sampai akhir bulan” supaya kamu bisa langsung tahu sisanya berapa.

5 Cek seminggu sekali, bukan sebulan sekali

Sekali seminggu, bandingkan realisasi dengan batasmu. Kalau pos keinginan sudah kepakai 70% padahal baru minggu kedua, kamu masih punya dua minggu untuk mengerem — bukan menyesal di tanggal 30.

Contoh Anggaran Bulanan Gaji Rp 5 Juta

Ini contoh untuk karyawan lajang yang tinggal di kos dan bekerja di kota besar, dengan pembagian 50/30/10/10.

Batang pembagian gaji Rp 5.000.000: kebutuhan Rp 2.500.000, keinginan Rp 1.500.000, tabungan Rp 500.000, dan investasi Rp 500.000.
Gaji Rp 5 juta dibagi 50/30/10/10. Rincian tiap pos ada di tabel di bawah.
PosRincianJumlah
Kebutuhan
Rp 2.500.000
Kos / sewa kamarRp 1.000.000
Makan pokok (harian)Rp 900.000
Transport kerjaRp 400.000
Listrik, air, pulsa & internetRp 200.000
Keinginan
Rp 1.500.000
Jajan, kopi, nongkrongRp 500.000
Hiburan & langganan streamingRp 300.000
Belanja pribadi & fashionRp 400.000
Sosial, kondangan, hadiahRp 300.000
TabunganDana daruratRp 500.000
InvestasiReksadana / emas rutinRp 500.000
TotalRp 5.000.000

Dengan pola ini, dana darurat 3 bulan pengeluaran (sekitar Rp 12 juta) terkumpul dalam waktu dua tahun kalau hanya mengandalkan pos tabungan — dan jauh lebih cepat kalau THR serta bonus ikut dimasukkan.

Contoh Anggaran Gaji Rp 10 Juta untuk Keluarga Muda

Contoh berikut untuk pasangan dengan satu penghasilan utama Rp 10 juta dan satu anak balita.

PosRincianJumlah
Kebutuhan
Rp 5.000.000
Cicilan / sewa rumahRp 2.000.000
Belanja dapur & makan keluargaRp 1.800.000
Transport & bensinRp 600.000
Listrik, air, internetRp 600.000
Keinginan
Rp 3.000.000
Makan di luar & jajanRp 900.000
Hiburan & langgananRp 500.000
Belanja pribadiRp 800.000
Sosial, hadiah, keluargaRp 800.000
TabunganDana darurat & dana pendidikanRp 1.000.000
InvestasiReksadana / emas / dana pensiunRp 1.000.000
TotalRp 10.000.000

Bagaimana Kalau Penghasilanmu Tidak Tetap?

Freelancer, pedagang, dan pemilik usaha kecil tidak bisa memakai persentase langsung karena pemasukan naik-turun. Tiga penyesuaian yang berhasil untuk pola ini:

Kesalahan Umum Saat Menyusun Anggaran Bulanan

Cara Memantau Anggaran Tanpa Buka Spreadsheet

Bagian tersulit dari menganggarkan bukan menyusunnya, tapi mencatat realisasinya setiap hari. Di sinilah kebanyakan orang menyerah — membuka aplikasi, memilih kategori, mengetik nominal, menyimpan, belasan kali sehari.

Mencatat lewat WhatsApp memangkas langkah itu jadi satu: kamu ketik “makan siang 25rb” di chat, dan pencatatan, pengelompokan ke pos, serta sisa anggaran dihitung otomatis. Karena WhatsApp sudah terbuka setiap hari, tidak ada aplikasi baru yang harus diingat.

ATUR juga menampilkan angka “Aman Dipakai” — sisa uang yang benar-benar bebas kamu pakai setelah kebutuhan, tagihan, dan sisihan tabungan direservasi. Ini yang membuat anggaran terasa berguna di tengah bulan, bukan cuma di awal.

Susun Anggaranmu, Lalu Biarkan ATUR yang Menjaganya

Tetapkan batas per pos sekali, lalu cukup chat setiap kali belanja. ATUR yang menghitung sisa dan mengingatkan saat kamu mendekati batas.

Coba Gratis 3 Hari di WhatsApp →

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Berapa persen gaji yang ideal untuk ditabung?

Patokan umumnya 20% dari penghasilan bersih untuk tabungan dan investasi. ATUR memecahnya jadi 10% tabungan dan 10% investasi supaya keduanya benar-benar terisi. Kalau 20% terasa berat, mulai dari 5% dan naikkan tiap kali penghasilanmu naik.

Apa bedanya metode 50/30/20 dan 50/30/10/10?

Keduanya sama-sama menyisihkan 20% di luar kebutuhan dan keinginan. Bedanya, 50/30/20 menggabung tabungan dan investasi dalam satu pos, sedangkan 50/30/10/10 memisahkannya supaya investasi tidak terus tertunda oleh kebutuhan menabung jangka pendek.

Bagaimana cara membuat anggaran kalau gaji pas-pasan?

Turunkan dulu porsi keinginan, bukan porsi tabungan. Misalnya jadi 60% kebutuhan, 25% keinginan, 15% tabungan dan investasi. Yang penting pos tabungan tetap ada meski kecil, karena kebiasaannya yang dibangun, bukan nominalnya.

Apakah anggaran harus dibuat ulang setiap bulan?

Tidak perlu dari nol. Cukup tinjau sekali sebulan dan sesuaikan pos yang berubah, misalnya saat harga sewa naik atau ada cicilan yang lunas. Anggaran yang stabil justru lebih mudah dijalankan daripada yang diubah terus.

Aplikasi apa yang bisa dipakai untuk memantau anggaran bulanan?

Spreadsheet cukup untuk merancang, tapi sulit dipakai mencatat harian. Alternatifnya aplikasi pencatat keuangan berbasis WhatsApp seperti ATUR, yang mencatat dari chat biasa dan langsung menghitung sisa anggaran per pos tanpa perlu buka aplikasi lain.